Jumat, 28 Februari 2020

Muhammad Al-Fatih - Sang Teladan




MUHAMMAD AL - FATIH

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
ASSALAMUALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH

Sebelum masuk ke topik pembahasan utama. Disini saya akan sedikit memperkenalkan diri saya. Karna ini adalah postingan pertama di blog saya. Nama saya SULTIANA SAKINAH. Saya lahir di Adian Kulim  pada tanggal 16 September 2001. Saya anak ke 2 dari 6 bersaudara. Suku saya adalah suku batak, namun di nama saya tidak dicantumkan.hehe. ya.... karena sejak sekolah dasar nama lengkap saya tidak dicantumkan borunya. Saya boru SIPAHUTAR. Seharusnya nama saya SULTIANA SAKINAH SIPAHUTAR. Dan banyak keluarga bahkan orang lain yang menanyakan kepada saya mengapa nama lengkap saya tidak dicantumkan borunya. Saya selalu bingung untuk menjawab pertanyaan itu.hehe. Biasanya saya hanya senyum ketika mendapat pertanyaan seperti itu.hehe. Hobi saya berenang.Ya.....walaupun hobi saya berenang, namun saya gak pandai pandai amat berenang.hehe. Saya juga suka menonton dan yang paling saya senangi yakni menonton film kartun. Buku yang saya sukai adalah buku-buku tentang pengembangan diri dan motivasi.Saya suka musik bergenre religi. Salah satu penyanyi yang saya sukai yaitu Maher Zain, karna menurut saya lirik lagu nya memiliki makna yang bagus . Saya sangat mengidolakan banyak tokoh-tokoh muslim. Terutama Nabi Muhammad SAW. Dan salah satu idola saya yaitu Muhammad Al-Fatih.




Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah. Muhammad Al-Fatih terlahir dengan nama Muhammad II (dalam Bahasa Turki: Mehmet-I Sani) , 29 Maret 1432 dari pasangan Sultan Murad II dan Huma Hatun. Dia merupakan keturunan Dinasti Turki Utsmani.

Dikutip dari Buku, The Great of Shalahuddin al-Ayyubi & Muhammad al-Fatih, nama Al-Fatih yang berarti Sang Penakluk merupakan julukan padanya lantaran bisa menaklukkan Konstantinopel. Selain diberi gelar Al-Fatih, Muhammad II juga mendapat julukan Abi al-Futuh dan Abi al-Khairat.

Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.
Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.


Adapun hal-hal yang dapat kita teladani dari sosok Muhammad Al-Fatih yaitu :

1. Menguasai Banyak Bahasa.
Dalam bukunya Ali Muhammad Ash-Shalabi menulis, Sulṭān Muhammad Al-Fātiḥ sedikitnya menguasai tiga bahasa Islam dengan sangat baik yang biasanya dikuasai orang-orang berpendidikan pad zaman itu, yakni bahasa Arab, Persia, dan Turki.Selain Ash-Shalabi, Ramzi Al-Munyawi dalam bukunya juga menyebutkan, Sulṭān Muhammad Al-Fātiḥ menguasai Bahasa Yunani dan 6 bahasa lainnya ketika berusia 21 tahun. Sebagaimana telah disebutkan di atas, pada usia itu pulalah A-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel. Masya Allah😊😊😊

2. Mempelajari Banyak.
IlmuAsh-Shalabi menulis dalam bukunya bahwa sejak kecil Muhammad Al-Fatih telah belajar Al-Qur’ān, hadis, fikih, dan ilmu modern lainnya seperti ilmu berhitung, ilmu falak, sejarah, serta pendidikan kemiliteran, secara teori maupun praktis. Felix Siauw dalam bukunya juga mengisahkan Sultan Murad, ayah Al-Fatih, meminta para ulama dari berbagai disiplin ilmu untuk mengajari anaknya berbagai mata pelajaran, mulai dari matematika, fisika, astronomi, seni perang praktis, militer, dan ilmu-ilmu lainnya.

3. Fleksibel, Inovatif dan Penuh Kejutan.
Felix Siauw dalam bukunya menceritakan, Al-Fatih memiliki mata pelajaran favorit, yakni sejarah. Felix menulis, sejarah adalah salah satu cabang ilmu yang sangat dikuasai oleh pemimpin besar dunia Islam, seperti Rasulullāh SAW, Umar bin Khaththab, Khalid bin Walid, dan para sahabat lainnya. Dengan mempelajari ilmu sejarah itulah, menurut Siauw, Sulṭān Muhammad Al-Fātiḥ kemudian tumbuh menjadi seorang yang fleksibel, inovatif, dan penuh dengan kejutan.

4. Mengambil Pelajaran dari Sejarah Tokoh Lain.
Siauw menjelaskan, dengan mendalami peristiwa sejarah, seseorang bisa mengambil pengamalaman dan pemikiran tokoh yang dibacanya tanpa harus hidup satu zaman dengannya. Selain itu, sejarah memungkinkan seseorang untuk tidak mulai kembali dari titik nol, tapi melanjutkan apa yang telah dibangun oleh orang-orang sebelumnya. Manfaatnya, jalan menuju keberhasilan orang tersebut menjadi lebih dekat.Hal itulah yang dilakukan oleh Al-Fatih. Siauw menyatakan, Al-Fatih tidak menjadikan sejarah sebagai masa lalu yang hanya berfungsi sebagai nostalgia dan romantisme tanpa arah. Namun Al-Fatih mengambil pelajaran dari sejarah sebagai perhitungan dan perencanaan untuk menentukan keputusan di masa depan.

5. Giat Beribadah.
Melaui pesan singkat, Felix Siauw mengatakan kepada kumparan, “Saya sampaikan, Rasulullah pernah bersabda, ‘Akan dibebaskan Konstantinopel, dan sebaik-baik pemimpin adalah dia.’ dan ini sebuah indikasi yang baik.”Untuk meraih janji Rasulullah itu, tutur Siauw, sang Sultan Muhammad Al-Fatih senantiasa melatih dirinya dengan karakter ksatria dan mendekakan dirinya pada Allah dengan banyak beribadah.

6. Pekerja Keras.
Felix Siauw juga mengatakan karakter rajin beribadah yang ada pada diri sang sultan juga ditunjang dengan karakter pekerja kerasnya. “Karena itu, tidak heran, beliau mendapatkan gelar "Al-Fatih" atau "Sang Pembebas" ketika beliau baru berusia 21 tahun. Sebab prestasi memang tak mengenal umur,” tutur Siauw.Siauw menekankan, “Hasil takkan pernah mengkhianati kerja keras, dan inilah yang ada pada Sultan Mehmed, ia adalah kulminasi kerja keras para pendahulu dan ulama yang istimewa.”

7. Berani
Sulṭān Muhammad Al-Fātiḥ terjun sendiri ke medan laga saat perang. Sang sultan tidak gentar berperang melawan musuh dengan pedangnya sendiri. Ash-Shalabi menceritakan, keberanian Al-Fatih tampak dalam sebuah pertempuran di wilayah Balkan. Saat itu pasukan Turki Uṡtmānĩ tengah berhadapan dengan pasukan Bughanda yang dipimpin oleh Steven. Saat itu ada moncong meriam telah diarahkan pada pasukannya, sehingga para pasukan segera tiarap ke tanah.Untuk menyemangati pasukannya, Al-Fatih berteriak dengan lantang, “Wahai pasukan mujahidin, jadilah kalian tentara Allāh, dan hendaklah ada dalam dada kalian semangat Islam yang membara.” Kemudian dengan gagah berani ia memegang tameng dan menghunus pedangnya serta segera memacu kudanya berlari ke depan dan tak menoleh pada apa pun.

8. Cerdas.
Kecerdasan Al-Fatih ini terlihat jelas dari pemikirannya yang cemerlang dalam upayanya membebaskan kota Konstantinopel. Al-Fatih memindahkan kapal-kapal dari pangkalannya di Baskatasy ke Tanduk Emas dengan cara menariknya melalui jalan darat yang ada di antara dua pelabuhan, sebagai usaha menjauhkan kapal-kapal itu dari Galata karena khawatir mendapat serangan dari pasukan Genova. Jalan darat yang dilaluinya bukanlah tanah yang datar, namun berupa bebukitan. Melihat kondisi demikian, Al-Fātiḥ berusaha meratakan tanah hanya dalam hitungan jam. Ia kemudian juga mendatangkan papan dari kayu yang diberi minyak dan lemak. Setelah itu papan-papan tadi ia letakan di atas tanah yang sudah rata, yang memungkinkan kapal-kapal pasukannya mudah untuk ditarik dan berjalan. Taktik semacam itu merupakan pemikiran yang sangat cemerlang pada masa itu. Kecepatan berpikir dan kecepatan beraksi Sulṭān Muhammad Al-Fātiḥ memang patut untuk diteladani.

9. Pemimpin yang Adil.
Dalam bukunya Ash-shalabi menulis, Al-Fātiḥ telah berinteraksi dengan ahli kitab sesuai dengan syariat Islam dan memberikan pada mereka hak-hak beragama. “Dia tidak pernah melakukan perlakuan jahat pada seorang pun dari kalangan Kristen,” terangnya.Sebaliknya, Al-Fatih justru menghormati para pemimpin agama lain dan berbuat baik kepada mereka. Slogan yang pernah Al-Fatih katakan adalah, “Keadilan sebagai pondasi kekuasaan.”

10. Memiliki Keteguhan Hati dan Keyakinan.
Al-Munyawi mengisahkan dalam bukunya, ketika Konstantin menolak untuk menyerahkan kota Konstantinopel, Al-Fatih bersiteguh, “Baiklah! Tidak lama lagi aku akan mempunyai singgasana di Konstantinopel atau aku akan mempunyai kuburan di sana!”.Senada dengan Al-Munyawi, Felix Siauw pun bercerita melalui pesan singkat kepada kumparan, “Karakter ksatria yang paling menonjol (dari Al-Fatih) adalah keyakinannya pada bisyarah (nubuwwah) Rasulullah, hingga dia melakukan lebih dari yang lain, hingga hasilnya pun lebih dari yang lain.”

11. Bersikap Tawakal.
Dalam bukunya Siauw menulis, Syaikh Syamsuddin dan Ahmad Al-Kurani sebagai guru Al-Fatih selalu mengingatkan kepada muridnya bahwa tawakal atau berserah kepada Allāh adalah modal utama seorang pemimpin. Mereka mengajarkan, semua kemenangan adalah datang dari Allah, bukan dari selain itu.Di samping itu, Al-Fatih juga diajarkan untuk tidak berbangga dan berpuas diri. Berbekal pengajaran dari para gurunya itu, Al-Fatih kemudian menamkan sikap tawadhu atau rendah hati atas semua pencapaian dan mempelajari kekalahan sebagai pertanda kurangnya ketaatan dan usaha. 




Itulah hal-hal yang dapat diteladani dari sosok Muhammad Al-Fatih. Semoga kita dapat mengikuti jejak beliau dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
SEMOGA BERMANFAAT😊😊😊



Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sejarah Bulu tangkis

  Dikutip dari buku Pendidikan Jasmani oleh Tri Hananto Budi Santoso, SPd dan Tim Penjas, olahraga bulu tangkis adalah permainan yang berasa...