MUHAMMAD AL - FATIH
BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
ASSALAMUALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH
Sebelum masuk ke topik pembahasan utama. Disini saya akan
sedikit memperkenalkan diri saya. Karna ini adalah postingan pertama di blog
saya. Nama saya SULTIANA SAKINAH. Saya lahir di Adian Kulim pada tanggal 16 September 2001. Saya anak ke
2 dari 6 bersaudara. Suku saya adalah suku batak, namun di nama saya tidak
dicantumkan.hehe. ya.... karena sejak sekolah dasar nama lengkap saya tidak
dicantumkan borunya. Saya boru SIPAHUTAR. Seharusnya nama saya SULTIANA SAKINAH
SIPAHUTAR. Dan banyak keluarga bahkan orang lain yang menanyakan kepada saya
mengapa nama lengkap saya tidak dicantumkan borunya. Saya selalu bingung untuk
menjawab pertanyaan itu.hehe. Biasanya saya hanya senyum ketika mendapat
pertanyaan seperti itu.hehe. Hobi saya berenang.Ya.....walaupun hobi saya
berenang, namun saya gak pandai pandai amat berenang.hehe. Saya juga suka menonton dan yang paling saya senangi yakni menonton film kartun. Buku yang saya sukai adalah buku-buku tentang pengembangan diri dan motivasi.Saya suka musik bergenre religi. Salah satu penyanyi yang saya sukai yaitu Maher Zain, karna menurut saya lirik lagu nya memiliki makna yang bagus . Saya sangat mengidolakan banyak tokoh-tokoh muslim. Terutama Nabi Muhammad SAW. Dan salah satu idola saya yaitu Muhammad Al-Fatih.
Muhammad al-Fatih
dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah
Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja
keenam Daulah Utsmaniyah. Muhammad Al-Fatih terlahir dengan nama Muhammad II (dalam
Bahasa Turki: Mehmet-I Sani) , 29 Maret 1432 dari pasangan Sultan Murad II dan
Huma Hatun. Dia merupakan keturunan Dinasti Turki Utsmani.
Dikutip dari
Buku, The Great of Shalahuddin al-Ayyubi & Muhammad al-Fatih, nama Al-Fatih
yang berarti Sang Penakluk merupakan julukan padanya lantaran bisa menaklukkan
Konstantinopel. Selain diberi gelar Al-Fatih, Muhammad II juga mendapat julukan
Abi al-Futuh dan Abi al-Khairat.
Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja
atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh
dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat
pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi
Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.
Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama
30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan
wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan
wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil
mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan
Utsmani.
Adapun hal-hal yang dapat kita teladani
dari sosok Muhammad Al-Fatih yaitu :
1. Menguasai Banyak Bahasa.
Dalam bukunya
Ali Muhammad Ash-Shalabi menulis, Sulṭān Muhammad Al-Fātiḥ sedikitnya menguasai
tiga bahasa Islam dengan sangat baik yang biasanya dikuasai orang-orang
berpendidikan pad zaman itu, yakni bahasa Arab, Persia, dan Turki.Selain
Ash-Shalabi, Ramzi Al-Munyawi dalam bukunya juga menyebutkan, Sulṭān Muhammad
Al-Fātiḥ menguasai Bahasa Yunani dan 6 bahasa lainnya ketika berusia 21 tahun.
Sebagaimana telah disebutkan di atas, pada usia itu pulalah A-Fatih berhasil
menaklukkan Konstantinopel. Masya Allah😊😊😊
2. Mempelajari Banyak.
IlmuAsh-Shalabi
menulis dalam bukunya bahwa sejak kecil Muhammad Al-Fatih telah belajar
Al-Qur’ān, hadis, fikih, dan ilmu modern lainnya seperti ilmu berhitung, ilmu
falak, sejarah, serta pendidikan kemiliteran, secara teori maupun praktis. Felix
Siauw dalam bukunya juga mengisahkan Sultan Murad, ayah Al-Fatih, meminta para
ulama dari berbagai disiplin ilmu untuk mengajari anaknya berbagai mata
pelajaran, mulai dari matematika, fisika, astronomi, seni perang praktis,
militer, dan ilmu-ilmu lainnya.
3. Fleksibel, Inovatif dan Penuh Kejutan.
Felix
Siauw dalam bukunya menceritakan, Al-Fatih memiliki mata pelajaran favorit,
yakni sejarah. Felix menulis, sejarah adalah salah satu cabang ilmu yang sangat
dikuasai oleh pemimpin besar dunia Islam, seperti Rasulullāh SAW, Umar bin
Khaththab, Khalid bin Walid, dan para sahabat lainnya. Dengan mempelajari ilmu
sejarah itulah, menurut Siauw, Sulṭān Muhammad Al-Fātiḥ kemudian tumbuh menjadi
seorang yang fleksibel, inovatif, dan penuh dengan kejutan.
4. Mengambil Pelajaran dari Sejarah
Tokoh Lain.
Siauw menjelaskan, dengan mendalami peristiwa sejarah, seseorang
bisa mengambil pengamalaman dan pemikiran tokoh yang dibacanya tanpa harus
hidup satu zaman dengannya. Selain itu, sejarah memungkinkan seseorang untuk
tidak mulai kembali dari titik nol, tapi melanjutkan apa yang telah dibangun
oleh orang-orang sebelumnya. Manfaatnya, jalan menuju keberhasilan orang
tersebut menjadi lebih dekat.Hal itulah yang dilakukan oleh Al-Fatih. Siauw
menyatakan, Al-Fatih tidak menjadikan sejarah sebagai masa lalu yang hanya
berfungsi sebagai nostalgia dan romantisme tanpa arah. Namun Al-Fatih mengambil
pelajaran dari sejarah sebagai perhitungan dan perencanaan untuk menentukan
keputusan di masa depan.
5. Giat Beribadah.
Melaui pesan singkat, Felix Siauw mengatakan kepada kumparan,
“Saya sampaikan, Rasulullah pernah bersabda, ‘Akan dibebaskan Konstantinopel,
dan sebaik-baik pemimpin adalah dia.’ dan ini sebuah indikasi yang baik.”Untuk
meraih janji Rasulullah itu, tutur Siauw, sang Sultan Muhammad Al-Fatih
senantiasa melatih dirinya dengan karakter ksatria dan mendekakan dirinya pada
Allah dengan banyak beribadah.
6. Pekerja Keras.
Felix Siauw juga
mengatakan karakter rajin beribadah yang ada pada diri sang sultan juga
ditunjang dengan karakter pekerja kerasnya. “Karena itu, tidak heran, beliau
mendapatkan gelar "Al-Fatih" atau "Sang Pembebas" ketika
beliau baru berusia 21 tahun. Sebab prestasi memang tak mengenal umur,” tutur
Siauw.Siauw menekankan, “Hasil takkan pernah mengkhianati kerja keras, dan
inilah yang ada pada Sultan Mehmed, ia adalah kulminasi kerja keras para pendahulu
dan ulama yang istimewa.”
7. Berani
Sulṭān Muhammad Al-Fātiḥ terjun sendiri ke medan laga saat perang.
Sang sultan tidak gentar berperang melawan musuh dengan pedangnya sendiri. Ash-Shalabi
menceritakan, keberanian Al-Fatih tampak dalam sebuah pertempuran di wilayah
Balkan. Saat itu pasukan Turki Uṡtmānĩ tengah berhadapan dengan pasukan
Bughanda yang dipimpin oleh Steven. Saat itu ada moncong meriam telah diarahkan
pada pasukannya, sehingga para pasukan segera tiarap ke tanah.Untuk
menyemangati pasukannya, Al-Fatih berteriak dengan lantang, “Wahai pasukan
mujahidin, jadilah kalian tentara Allāh, dan hendaklah ada dalam dada kalian
semangat Islam yang membara.” Kemudian dengan gagah berani ia memegang tameng
dan menghunus pedangnya serta segera memacu kudanya berlari ke depan dan tak
menoleh pada apa pun.
8. Cerdas.
Kecerdasan Al-Fatih ini
terlihat jelas dari pemikirannya yang cemerlang dalam upayanya membebaskan kota
Konstantinopel. Al-Fatih memindahkan kapal-kapal dari pangkalannya di Baskatasy
ke Tanduk Emas dengan cara menariknya melalui jalan darat yang ada di antara
dua pelabuhan, sebagai usaha menjauhkan kapal-kapal itu dari Galata karena
khawatir mendapat serangan dari pasukan Genova. Jalan darat yang dilaluinya
bukanlah tanah yang datar, namun berupa bebukitan. Melihat kondisi demikian,
Al-Fātiḥ berusaha meratakan tanah hanya dalam hitungan jam. Ia kemudian juga
mendatangkan papan dari kayu yang diberi minyak dan lemak. Setelah itu
papan-papan tadi ia letakan di atas tanah yang sudah rata, yang memungkinkan
kapal-kapal pasukannya mudah untuk ditarik dan berjalan. Taktik semacam itu
merupakan pemikiran yang sangat cemerlang pada masa itu. Kecepatan berpikir dan
kecepatan beraksi Sulṭān Muhammad Al-Fātiḥ memang patut untuk diteladani.
9. Pemimpin yang Adil.
Dalam bukunya
Ash-shalabi menulis, Al-Fātiḥ telah berinteraksi dengan ahli kitab sesuai
dengan syariat Islam dan memberikan pada mereka hak-hak beragama. “Dia tidak
pernah melakukan perlakuan jahat pada seorang pun dari kalangan Kristen,”
terangnya.Sebaliknya, Al-Fatih justru menghormati para pemimpin agama lain dan
berbuat baik kepada mereka. Slogan yang pernah Al-Fatih katakan adalah,
“Keadilan sebagai pondasi kekuasaan.”
10. Memiliki Keteguhan Hati dan
Keyakinan.
Al-Munyawi mengisahkan dalam bukunya, ketika Konstantin menolak untuk
menyerahkan kota Konstantinopel, Al-Fatih bersiteguh, “Baiklah! Tidak lama lagi
aku akan mempunyai singgasana di Konstantinopel atau aku akan mempunyai kuburan
di sana!”.Senada dengan Al-Munyawi, Felix Siauw pun bercerita melalui pesan
singkat kepada kumparan, “Karakter ksatria yang paling menonjol (dari Al-Fatih)
adalah keyakinannya pada bisyarah (nubuwwah) Rasulullah, hingga dia melakukan
lebih dari yang lain, hingga hasilnya pun lebih dari yang lain.”
11. Bersikap Tawakal.
Dalam bukunya Siauw
menulis, Syaikh Syamsuddin dan Ahmad Al-Kurani sebagai guru Al-Fatih selalu
mengingatkan kepada muridnya bahwa tawakal atau berserah kepada Allāh adalah
modal utama seorang pemimpin. Mereka mengajarkan, semua kemenangan adalah
datang dari Allah, bukan dari selain itu.Di samping itu, Al-Fatih juga
diajarkan untuk tidak berbangga dan berpuas diri. Berbekal pengajaran dari para
gurunya itu, Al-Fatih kemudian menamkan sikap tawadhu atau rendah hati atas
semua pencapaian dan mempelajari kekalahan sebagai pertanda kurangnya ketaatan
dan usaha.
Itulah hal-hal yang dapat diteladani dari sosok Muhammad Al-Fatih. Semoga kita dapat mengikuti jejak beliau dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
SEMOGA BERMANFAAT😊😊😊
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.